Pages

Subscribe:

Rabu, 28 April 2010

Mari Rebut Kembali Pasar


Peningkatan kehidupan ekonomi masyarakat Papua hingga sampai saat era modern ini perlu mendapat perhatian penuh. Selama ini orang Papua asli hanya menjadi penonton di negeri sendiri. Sementara mereka sampai saat ini belum ada tanda-tanda akan hidup sejaterah dan makmur. Kalau kita mau jujur, amati dengan cermat mengenai kehidupan orang Papua asli di bidang ekonomi, mereka saat ini nyaris terasing di negeri mereka sendiri. Meskipun saat ini beberapa kota di Papua tidak berbeda dengan kota lain di Indonesia. Misalnya di Jayapura orang dengan mudah menemukan hotel berbintang, kawasan pertokoan yang berjejer-jejer di Kota Jayapura, kawasan Entrop, Hingga Abepura.

Kalau jalan-jalan ke Pasar, di sana di padati pedagang. Namun mama-mama orang Papua asli sendiri tidak memiliki tempat yang layak dalam melalukan aktifitas dagang. Tokoh- Swalayan, Restoran siap saji, dan warung makan bertebarang dimanan-mana. Ironisnya, lebih sulit mencari orang asli Papua yang bekerja di sejumlah sentra perekonomian di Pasar. Mereka hanya berjualan kebutuhan sehari-hari. Mama-mama hanya berjualan sayuran, ubi (ipere:Wamena) dan pekerjaan itu tidak rutin dilakukan.


Matahari, mendung dan hujang diterima mereka. Sayur menjadi layu terkena mata hari dan bahkan kadang mereka menerimah resiko barang dagang di hancurkan Polpepe karena mereka jualan di tempat-tempat yang tidak diperbolehkan pemerintah. Tetapi bagi mereka sangat strategis. Lagi pula di pasar mereka tidak ada tempat yang layak, karena kalah bersaing. Di kebanyakan pasar tradisional, masih banyak terlihat orang asli Papua berjualan di los Pasar. Akan tetapi di pasar kaget, los pasar dipadati pendagang pendatang, sedangkan pedagang asli Papua pada umumnya berjualan di telaras pasar atau di emperan toko. (Baca : ekspedisi Kompas, 123). Jari tangan kita cukup untuk menghitung orang Papua Asli yang bekerja di satu toko, kios, warung makan, atau toko swala. Lebih sulit lagi menemukan orang asli Papua (mama Papua) yang memiliki usaha sekelas itu. Inilah sebuah tantangan dan perjuangan yang dihadapi masyarakat asli penduduk Papua.

Ini adalah wajah cara bisnis mama penduduk asli di tanah Papua yang dikuasai penduduka pendatang. Menurut ekpedisi Kompas tagub 2007 lalu, dituliskan bahwa Warga bugis, Buton, dan Makasar lebih banyak bergiat di sektor perdagangan sedangkan warga Menado, Toraja, dan Jawa di birokrasi pemerintahan. Orang Papua sendiri amat mendominasi dalam nirolrasi dan formasi pegawai negeri sipil di Papua. Akan tetapi disektor perekonomian orang asli Papua tenggelam.

Menurut Ketua Perwakilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Papua, Albert Rumbekwan “Ketidak berdayaan orang asli Papua disektor perekonomian mereupakan fenomenan yang terjadi saat ini di berbagai kota di Papua” Ia mencatat, di kawasan pertumbuhan dan kegiatan ekonomi di Papua seperti di Jayapura, Timika, Sorong, dan juga di Merauke – para pendatang mejadi aktor ekonomi yang dominan.

Kalua melihat kehidupan sosial orang asli Papua mereka terdiri dari petani, peternak dan nelayan. Namun sampai saat ini di erah Otonomi yang sudah bergulir selama 8 tahun, hanya sedikit dapat dihitung dengan jadi mereka yang beternak, nelayan dan menjadi petani? Petani, nelayan dan peternak yang sukses di Papua pun kebanyakan adalah para pendangan.

Disitulah, seharusnya menjadi titik perhatian pemerintah, dan lembaga swadaya serta Agama dan kita semua yang peduli. Memberikan dorongan, pencerahan dan skill serta modal untuk menghidupkan usaha kecil dari potensi luar biasa yang mereka miliki. Semua elemen di Papua yang di sebutkan di atas memiliki pekerjaan rumah yang berat. Pekerjaan itu adalah memformasi ekonomi kerakyatan yang sesuai dan cocok bagi pengembangan ekonomi masyarakat asli Papua. Menarik mereka terlibat secara langsung ataupun tidak tidak langsung berperan mengambil bagian untuk mengakat potensi ekonomi daerah. Menyadari hal ini maka kitanya menjadi penting untuk meningkatkan sisitem usaha atau bisnis yang dilakukan mama-mama Papua di pasar. Dengan harapan memberikan inspirasi yang menjadi kerja sama berbagai pihak untuk melawan keterasingan dan kemiskinan di negeri Papua yang kaya dan raya namun direbut orang asing.

By. Papuans
Sumber: http://http://papuans.blogspot.com/

Selasa, 27 April 2010

MUSIK DAN SARANA UNGKAPAN PERASAAN


By Egeidaby

Engkau mestinya mengerti dan juga harus menyadari
di dalam hati kita selalu saja berbeda
mengapa samakan hatiku ini dengan hatimu
aku ini bukan pintu yang s’lalu kau buka kau tutup
aku ini manusia yang punya batas perasaan
bagimu dirimu bagiku diriku tetap berbeda

Reff:

Sering engkau pergi entah ke mana?
dan juga kau pergi pamit siapa?
sengaja kau buat aku kecewa
kau simpan luka kau simpan duka di rumah ini
setitik cinta yang aku harapkan, segudang duka yang engkau berikan
sumpah dan janjimu bukan jaminan
engkau yang dulu engkau yang kini tiada bedanya.

Demikian terdengar sebagian dari lagu yang berjudul “Aku Bukan Pintu” yang di nyanyikan oleh Loela Drakel. Tulisan ini saya tulis buat MY BEST FRIEND yang mengharapkan cinta si DIA yang hingga kini masih belum berubah cinta kepadanya .


Kita akan kupas dulu arti dari music itu sendiri , Apa arti dari musik itu? Musik adalah bunyi atau suara yang didengarkan oleh setiap individu dan memiliki makna dan pesan tertentu. Makna dan pesan yang disampaikan setiap lagu pasti berbeda-beda yang membedakan tersebut berdasarkan sejarah, lokasi, budaya dan selera seseorang. Dari bunyi atau suara yang didengarkan mengatakan sesuatu tentang sesuatu, sehingga musik berhadapan dengan makna dan pesan untuk diresapkan. Makna dan pesan tersebut bisa dipengaruhi oleh konteks saat manusia berkarya, baik itu tujuan, pendengar dan sebagainya. Musik dapat berfungsi sebagai ungkapan perhatian, baik bagi para pendengar yang mendengarkan maupun bagi pemusik yang menggubahnya.

Musik mengandung kumpulan yang sistematis dan teratur dari berbagai komponen suara , irama, melodi, dan keselarasan , untuk dapat dilihat dan dinikmati. Musik melibatkan pengelolaan serta keterampilan dari materi artistik sehingga dapat menyajikan atau mengkomunikasikan suatu hal tertentu, gagasan, atau keadaan perasaan. Pencipta lagu menciptakan suatu lagu berdasarkan situasi yang sedang dialaminya. Jika saat situasinya sedih maka lagu yang diciptakannya sedih, pada saat situasi pencipta sedang merasa gembira atau bangga Ia akan menciptakan sebuah lagu
dengan lirikan lagu yang bangga atau gembira gembira pula. Begitu juga jika lagunya ingin melukiskan suatu keadaan alam atau situasi suatu lokasi, maka Ia akan menyusun keadaan alam itu dari bait ke bait dalam suatu lirikan lagu. Sehingga pendengarnya pun seakan-akan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh si pencipta lagu saat menciptakan lagu tersebut.

Judul yang saya kutip Musik dan Ungkapan Perasaan ini lebih berbicara tentang ungkapan perasaan cinta terhadap sesorang . Sebagai manusia normal pasti kita semua merasakan akan jatuh cinta kepada lawan jenis. Tidak salah juga jika kita jatuh cinta pada lawan jenis karena Tuhan menciptakan manusia (laki-laki dan perempuan) untuk saling mencintai antara satu sama lain dan akhirnya saling melengkapi guna meneruskan keturunan. Luapan atau ungkapan perasaan dari seseorang diantara kita semua pasti berbeda-beda, perbedaan ini disebabkan karena bakat yang kita miliki berbeda-beda. Pasti kita akan lakukan sesuai dengan apa yang merasa kita bisa, sepertii: melalui sebuah lagu, bertatap muka, dana lain sebagainya. Bagi sahabat saya ini menguingkapkan perasaannya melalui music. Memang dia punya bakat dalam hal ini, baginya salah satunya jalan untuk menenangkan hati lewat music melalui beberapa karya untuk menghibur diri dan bagi pendengar yang merasakan hal yang sama.


Kecewa akan semua hal dalam perjalanan hidup mebuahkan beberapa lagu, lagu hasil ciptanya seperti; Cinta Bersemi, You’re My Sunshine Kodoya (Album Gaidap Star Voice), Apiwau-Amadii, Harapana dalam Penjara Cinta (Album Trio Gaidap Star Voice) yang akan segera keluar dalam waktu dekat (sementara tersedat karena masalah dana). Dari semua lagu yang diciptakan berangkat dari kisah cinta dengan si DIA yang jika saya sebutkan namanya Amadii (Anak bungsu perempuan dalam Suku Mee). Harapan dari semua lagu yang diciptakannya adalah untuk menghibur diri agar DIA merubah sikap dan memberikan setitik cinta yang diharapakannya, juga menghibur dalam mencari ketenangan jiwa bagi pendengar setia Trio Gaidap Star Voice yng merasakan hal yang sama.

Sebenarnya saya tidak sudi untuk menuliskan hal ini, namun suara hati mengatakan apa salahnya jika catatan kecil ini menjadikan sebagai curhat dari derita yang dialami teman saya kepada kerabat sekalian. Memang sebagai teman baik sayapun ikut merasakan apa yang dirasakan kawan saya. Si DIA yang saya sebut Amadi tersebut kenal saat kami masih SMA, karena dia adalah teman se-angkatan kami di SMA Adhi luhur Nabire. Entalah saya juga tidak tahu awal proses cinta mereka, karena ruang kelas yang berbeda antara saya dan mereka berdua. Walau demikian menurut cerita dari teman saya berawal dari harapan yang diberikan oleh si DIA (Amadi). Harapan yang dihadirkan seiring janji yang diucapkannya menjadikan itu sebagai genggaman akan janjinya untuk abadi bersama selamanya. Kini waktu berkata lain, mungkin lautan luas yang memisahkan kami antara si Amadi dan kami ataukah karena masalah lain sehingga menjadikan itu sebagai alasan? Kamipun tak tahu….!!

Waktu terus berjalan, hingga pada tahun 2009 lalu, kami melangsungkan pembicaraan melalui telpon seluler. Awalnya saya saya menelpon teman saya yang berada di sana (teman cewe) dan kami saya banyak menanyakan tentang hubungan dengan teman saya yang sedang mengharapkan cinyanya ini. Kata yang saya petik ketika pembicaraan kami berlangsung yaitu sekarang saya dengan orang lain dan jika hubungan kami putus mungkin saya akan kembali dengan teman kamu (kita). Mendengar perkataan itu saya banyak berbicara akan keadaan teman saya, namun apa boleh buat mungkin itu adalah keputusannya. Lalu jari sayapun mulain menari mencari nomor kontak kawan saya dan langsung saya sambungkan. Saya mengawali pembicaraan agar menyelesaikan masalah ini dengan baik dan ketika Amadi mengulangi pembicaran sebelumnya, Einaikeda memilih jalan untuk berdiam, saya mulai pancing agar dia juga berbicara tapi tak satu katapun yang dia keluarkan, tak tahan dengan keadaan ini hingga akhirnya saya memutuskan pembicaraan kami dengan mematikan HP.

Ketika masuk pada tahun 2010 nomor kontak teman kami ini tidak aktif, mungkin dia tidak mau diganggu sama kami berdua. Saya pernah berkata: nogei, nomor tidak aktif dan mungkin dia sudah memutuskan dan memilih dia yang menjadiorang ketiga. Kalau begitu kenapa dia memberikan harapan yang pasti kata Einaikeda, dari kata ini berarti bahwa dia menaruh harapan besar kepadanya. Yo sudah kalo begitu, selagi kita masih bisa akan kita usahakan dengan akal sehat untuk kembalikan seperti masa lalu kalian kata saya.

Awan hitam di hati yang sedang gelisah, tenggelam kedalam dekapannya sebelum mencapai langkah yang jauh. Harapan kami, waktu akan berbicara dan mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Dan saat ini yang tersisa hanyalah mengapa, bagaimana dan kapan……??

Kamis, 22 April 2010

Mencari Makna Kehidupan


Setiap orang akan berbeda dalam menyikapi berbagai gejolak hidupnya. Menyikapi hidup terkadang gampang-gampang susah. Gampang untuk bicara, susah untuk dijalankan. Adakalanya kita bisa berpikiran jernih sehingga semuanya nampak indah, dan adakalanya hati kita dalam keadaan gelap sehingga keluh kesah pun tak dapat dihindari. Keluh kesah dan ketenangan silih berganti menyelimuti perjalanan hidup kita. Dan semuanya sudah menjadi hukum Allah bahwa kehidupan ini memang selalu berputar dan berpasang-pasangan, yang menjadikannya sebagai ujian, pelajaran, cobaan dan peringatan bagi orang-orang yang berpikir.
Manusia dengan perbedaan cara pandangnya, selalu menanti kehadiran masa-masa yang tenang sehingga bisa menjadikannya sebagai sebuah kebahagiaan yang dalam. Masa-masa yang tenang ini akan sangat berdampak pada penjernihan akal dan pikiran manusia. Tetapi tidak sedikit pula kita dapat merasakan ketenangan hati dengan tidak terpengaruh tempat dan waktu. Bagi mereka, suasana ramai maupun sepi, malam ataupun siang, semuanya sama karena sudah terpancar sinar ketenangan dalam hatinya. Sungguh beruntung orang yang seperti itu.



Aku semakin percaya bahwa memang benar Tuhan menyelamatkan semua orang yang meminta dengan sungguh-sungguh kepada-Nya. Saat itulah diri kita merasa sendirian kecuali Sang Ugatame yang selalu terjaga dan menemani kita. Saat itulah diri kita merasa bukanlah apa-apa, terlalu kecil diri kita dihadapan Tuhan tetapi akan menjadi mulia bila kita selalu bersandar pada-Nya. Ketenangan dan kedamaian hati terasa memuncak ketika menyadari bahwa DIAlah segalanya bagiku.
Segala kondisi adalah tantangan dan setiap masa adalah cobaan, namun di balik itu terdapat hikmah yang besar bagi mereka yang mencari-Nya dengan sungguh-sungguh. Berpikir untuk menjawab semua tantangan, berpikir untuk teguh dalam menghadapi cobaan. Namun bagiku 4 hari 3 malam adalah pengalaman yang berharga dalam mencari makna hidup bagi jiwa yang membutuhkan ketenangan. (Egeidaby)
http://maknahidup.blogdetik.com/2010/01/12/mencari-ketenangan-di-kesunyian-malam

Sabtu, 03 April 2010

KEMASAN IDE-IDE ANAK NEGERI UNTUK PILKADA DOGIYAI

Oleh Mateus Ch. Auwe

Kabupaten Dogiyai secara resmi dimekarkan dari kabupaten induk Nabire dengan nomor 8 tahun 2008 tentang pembentukan kabupaten Dogiyai di Provinsi Papua. Pastinya pemekaran ini bertujuan untuk meningkatkan penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, dan pelayanan publik guna mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat Dogiyai. Walau demikian disaat pemekaran dalam proses banyak terjadi pro dan kontra antara masyarakat dengan dengan masyarakat maupun kaum itelektual dan lain sebagainya. Pada tanggal 28 Juni 2008 kabupaten Dogiyai secara resmi di mekarkan oleh menteri dalam negeri Mardianto atas nama presiden republik Indonesia di Nabire.

Setelah dua tahun lamanya roda pemerintahan berjalan dengan status karateker, kini saatnya kabupaten ini sedang bersiap-siap untuk melakukan pemilihan kepala daerah (pilkada). Untuk merebut kursi nomor satu di kabupaten tersebut dengan berbagai macam cara.

Tim Seleksi KPUD dan KPUD
Melihat pilkada di kabupaten Dogiyai sebagai awal, maka diharap tim seleksi terpilih yang terbentuk berdasarkan SK, nomor I tahun 2010 tentang pembentukan KPUD Dogiyai, yang di keluarkan DPRD Dogiyai bulan februari 2010 lalu, agar merekrut anggota KPU dengan professional. Calon KPU yang akan mendaftar setidaknya harus memenuhi kriteria seleksi KPU yang telah ditetapkan secara nasional. Dalam proses seleksi, tim seleksi harus proaktif dalam melihat latar belakang berorganisasi calon KPU, intelektual serta memunyai kepekaan dalam memecahkan suatu masalah. Sehingga diharapkan nantinya KPU yang akan terpilih bisa bekerja secara professional. Sifat menunjukkan KPU sebagai lembaga yang menjalankan tugas secara berkesinambungan meski dibatasi masa jabatan tertentu. Sifat mandiri menegaskan KPU dalam pemilu, bebas dari pengaruh pihak manapun.

Dalam pilkada KPU bukanlah penentu kemenangan, namun KPU hanya penyelenggara pilkada dan rakyatlah yang menentukan kemenangan atas pesta demokrasi itu. Sebagai penyelenggara Pilkada, KPU tetap berpegang pada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku, tanpa dipengaruhi atau diatur politikus tertentu untuk kepentingan sesaat dengan mengorbankan rakyat.

Pilkada: Menentukan Kehidupan Masyarakat Dogiyai 5 Tahun Ke Depan


Dengan pilkada, diharapkan dapat dicapai akuntabilitas kepala daerah dan terciptanya pelayanan publik yang lebih baik. Good governance akan lebih cepat terwujud karena rakyat bisa terlibat langsung dalam proses pembuatan kebijakan. Pilkada merupakan bagian yang sangat penting agar dapat menjadikan transisi demokrasi sampai pada tujuan, yaitu demokrasi yang terkonsolidasi. Jika melihat pengalaman pilkada yang terjadi di daerah lain, Apakah politisi telah menerapkan cara-cara yang baik dalam meraih kekuasaan? Apakah mereka menahan diri untuk tidak melakukan money politics?
Apakah mereka menghindari perilaku curang?

Tampaknya harapan untuk terciptanya demokrasi yang terkonsolidasi, akuntabilitas kepala daerah, pelayanan publik yang lebih baik, dan good governance masih jauh dari semuanya itu. Pilkada yang telah berlangsung terlihat amat kental dengan money politics. Para politisi terlihat dekat dengan cara-cara kotor tersebut.

Dalam pilkada, yang sering terjadi para pemilik uang (kapitalis) menempatkan sumbangan untuk kampanye sebagai investasi yang nantinya akan memperoleh imbalan (Djani, 2004: 24). Maka tidak mengherankan jika berbagai kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan terpilih adalah untuk memenuhi kepentingan politik tersebut. Jangan heran jika para kepala daerah yang merupakan produk pilkada yang penuh persekongkolan penguasa dan pengusaha ini akan dengan ganas menghisap segala sumber daya yang ada di daerahnya untuk digunakan sebagai bayar utang kepada para kroni. Mereka akan membiarkan pembalakan hutan, perusahaan, dan perilaku jahat lainnya. Pendeknya, mereka tidak akan segan-segan mengorbankan kepentingan rakyat untuk memenuhi pemberian imbalan.

Jika saya memakai istilah Immanuel Kant , para politisi kita lebih terlihat sebagai moralis politis daripada politisi moralis. Kant (1980: 37) mengatakan bahwa moralis politis adalah “one who forges a morality in such a way that it conforms to the statesman’s advantage”. Politisi yang bermental moralis politis ini selalu mereka-reka moralitas sedemikian rupa sehingga sesuai bagi keuntungan dirinya. Moralis politis ini melihat politik sebagai persoalan teknis, bagaimana mencapai kekuasaan dengan segala cara, menghalalkan segala cara. Sedangkan politisi moralis adalah politisi yang senantiasa memilih prinsip-prinsip kecerdikan bernegara sedemikian rupa sehingga sejalan dengan prinsip-prinsip moral. Kant (1980:37) mengatakan ”one who so chooses political principles that they are consistent with those of morality”. Politisi moralis melihat politik sebagai persoalan etis. Jadi, seorang politisi moralis tetap harus cerdik dalam melihat peluang politik, namun dia harus punya intensi moral.

Sayang, para pelaku politik yang berlaga di pilkada adalah para moralis politis yang dalam melakukan langkah-langkah politiknya tidak lagi mengindahkan moral. Mereka bahkan mempermainkan nilai-nilai moral untuk keuntungan pribadinya. Bagi-bagi uang dan sembako menjelang pemilihan mereka katakan sebagai peduli pada orang miskin.

Konflik Dalam Pilkada

Konflik saat pilkada sudah menjadi kebiasaan dalam pertarungan merebut kursi empuk itu. Di dalam pilkada, jarak antara pasangan calon dengan pendukungnya sangat dekat. Demikian juga jarak antara pendukung satu dengan lainnya. Konsekuensinya, emosi mereka menjadi lebih kuat dan karenanya lebih sulit dikendalikan jika masing-masing berusaha memaksakan diri sebagai pemenang alias tidak mau mengalah.

Salah satu penyebab konflik dapat berkembang menjadi anarkis adalah jabatan kepala daerah sebagai pimpinan birokrasi di daerah menjanjikan keuntungan ekonomi dan politik yang besar bagi mereka yang memenangi kontes pilkada. Institusi birokrasi selama ini dipandang sebagai tempat amat strategis bagi para kepala daerah untuk membangun konsesi ekonomi-politik dan praktik-praktik KKN bernilai uang cukup besar bagi para aparatur daerah. Maka, tidak mengherankan apabila momentum pilkada disambut antusias para politisi, dengan para donatur di belakangnya yang berani mempertaruhkan jumlah uang cukup besar untuk memenangi pilkada. Ketika tidak terpilih, tidak mengherankan mereka akan mendorong massa pendukungnya melakukan protes yang menyulut konflik

Peran Mahasiswa dalam Pilkada, Perlukah?

Bagaimanapun juga, mahasiswa memiliki peran penting dalam mengawal proses demokrasi Pilkada. Paling tidak, terdapat beberapa alasan mendasar pentingnya peran mahasiswa dalam proses Pilkada. Pertama, sistem pemilihan Kepala Daerah sebagaimana di atur dalam UU 32/2004. Dalam konteks ini, mahasiswa memiliki peran penting untuk mengawasi kinerja KPUD. Baik dari tahap persiapan maupun tahap pelaksanaan Pilkada.

Melalui Pilkada diharapkan dapat melahirkan Kepala Daerah dan WakilKepala Daerah baik, profesional, aspiratif dengan sebuah proses yang demokratis, jujur dan adil. Pilkada sangat ditentukan oleh performance KPUD sebagai institusi penyelenggara. Bila proses pilkada dinodai dengan berbagai macam suap, kolusi dan berbagai macam cara yang melibatkan KPUD dan mempengaruhi indepedennya, akan melahirkan pemerintahan daerah yang koruptif.

Sangat penting bagi mahasiswa untuk meneliti dan menelusuri lebih jauh track record para calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Bila perlu mahasiswa dapat melakukan kampanye terbuka kepada masyarakat untuk tidak memilih para calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang dinilai oleh mahasiswa sebagai kandidat yang “busuk”. Lebih jauh lagi, mahasiswa dapat membuat berbagai kriteria calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah versi mahasiswa. Setidaknya, ini merupakan peran nyata mahasiswa di daerah untuk memberikan penyadaran akan pentingnya seorang Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang aspiratif, profesional, bebas dari ‘KKN’ dan dipilih dalam suasana yang lebih demokratis.

Terpenting bagi Masyarakat…..

Setiap masyarakat berkewajiban melakukan publikasi jejak rekam para kontestan pilkada serta mencermati cara kampanye mereka. Lihat saja cara seorang calon kepala daerah berkampanye, jika menghalalkan segala cara, dapat dipastikan orang tersebut hanya mengejar kepentingan pribadi berupa kekuasaan dan kekayaan. Dengan publikasi rinci setiap figur calon kepala daerah, masyarakat dapat menentukan pemimpin yang tidak memiliki hati nurani bagi masyarakat sipil.

Terciptanya masyarakat sipil bukanlah mimpi yang kian pudar, melainkan sesuatu yang real. Realitasnya terletak pada pengejarannya. Meskipun tujuannya belum tercapai, kita tidak pernah mimpi karena dalam pengejaran ada sesuatu yang real. Terlepas dari alternatif evolusi atau revolusi yang dipilih dalam pengejaran itu, dengan mengupayakan terciptanya tatanan masyarakat sipil, berarti kita telah merealitaskan sesuatu yang sebelumnya tidak real.

==== Semoga ====

Mahasiswa Jurusan Akuntansi Universitas Teknologi Yogyakarta/
Ketua, Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Dogiyai (IPMADO) Se-Jawa dan Bali

Senin, 18 Januari 2010

Wajah Tigi Barat 4 Bulan di Tahun 2009



Oleh Roy M. Adii

Terhitung 16 September 2009 terbilang kabupaten Deiyai masih berumur jagung. Namun terkesan mengalami perubahan. Khususnya di wilayah Tigi Barat, berikut cacatan Roy Marthen Adii dalam sebuah perjalanan mengelilingi wilayah Tigi Barat belum lama ini.
Terkesan belum lama bapak menjabat sebagai kepala Distrik tigi Barat ?
Ia saya baru saja dilantik sejak tanggal 16 September 2009 diaula GKIIP Waghete. Saya kepala distrik yang pertama setelah Kabupaten Deiyai menjadi kabupaten tersendiri. Belum banyak yang kita lakukan akan tetapi dengan rasa memiliki terhadap rakyat dan daerah maka beberapa terobosan kita telah dilakukan.

Apa saja yang telah di lakukan selama 4 bulan di tahun 2009 ?


Ia … sebenarnya tidak banyak sih.. tetapi biar sedikit dirasakan oleh masyarakat wilayah Tigi barat. Pertama adalah saya mengadakan pendekatan kepada berbagai kalangan yang ada di wilayah itu.



Terutama terkait pentingnya kehadiran pemerintah. Hal ini dilakukan dengan tujuan memahamkan peranan pemerintah terhadap perkembangan hidup rakyat. Selain itu setelah melihat sejumlah kendala yang dialami terutama dalam penyaluran beras miskin. Sebelum rakyat saya belum mendapatkan beras miskin selama 8 bulan maka saya mencari format baru maka solusi yang di tempuh adalah membagi wilayah penyaluran berdasarkan letak daerah.

Misalnya wilayah kampong Gakokebo dan kampong Widimei mendapatkan beras di Gakokebo, sedangkan untuk 6 kampung wilayah debey di droping di balai kampong Piyakedimi, sementara 4 kampung Ayatei, diyai, Onago, dan Tenedagi secara swadaya kepala distrik telah membangun gudang di kampong Dedoutei dengan tujuan menampung beras miskin.
Persoalan yang sangat sulit diterselesaikan adalah beberapa hal namun beberapa itu pun sudah kami mulai membenahi

Apa saja yang sulit di terselesaikan ?

Banyak yang kita belum terselesaikan. Diantara pembangunan infrastruktur, pemberdayaan ekonomi, peningkatan pendidikan, dan peningkatan ekonomi. Salah satu yang kami telah berupaya adalah merebut dana PPIP Bina Marga Departemen Pekerjaan Umum pusat dan dibagikan kepada masyarakat yang sangat mengharapkan peningkatan infrastruktur dan jembatan yakni Kampung Tenedagi, kampong Onago, dan Gakokebo. Tetapi hanya dengan dana itu tidak cukup membangun dan masih mencari jalan keluar … diantara pembangunan ekonomi dan peningkatan sumber daya manusia.

Apakah ada harapan untuk Membangun ekonomi dan pendidikan ?


Ada harapan untuk memperbaiki dua aspek yang lain
Yang jelas ada, artinya melalui program yang diusulkan kepada pemerintah Kabupaten Deiyai tetapi yang jelas dalam kondisi status kabupaten yang baru dimekarkan belum bisa maksimal dalam menjawab semua usulan kita. Tetapi saya punya akal lain yakni mencari jalan keluar artinya membuat proposal ke sejumlah departemen yang ada di pusat ( Jakarta). Misalnya di departemen social, departemen pendidikan, dan departemen pekerjaan umum. Dan termasuk kepada menteri riset dan Tehnologi Jakarta. Dari semua proposal yang sudah diajukan sudah ada jawaban kini dalam tahap penyelesaian berkas kelengkapan.

Dari Departemen mana saja yang telah berikan tanggapan atas Proposal ?
Tidak semua ada tanggapan tetapi syukur kepada Tuhan bahwa ada yang sudah menjawab, semisal dari Menteri Riset dan Tehnologi, departemen social, menteri pendidikan dan menteri ekonomi.


Kapan Realisasi beberapa proposal yang di ajukan itu ?
Diharapkan dalam tahun ini bisa direalisasikan. Sebab rakyat sedang mengharapkan perubahan-perubahan. Rakyat Indonesia yang ada di wilayah Tigi barat juga adalah bangsa Indonesia. Mereka ingin merubah pola hidup yang terkesan masih tertinggal dan terisolir dari perubahan jaman serta ingin setara dengan manusia-manusia lain di belahan bumi khususnya di Indonesia.

Lalu saya mendengar ada Motto pembangunan Distrik ?


Ia.. Motto pembangunan yang saya canang pada tanggal 29 Desember 2009 saat penyampaian kesan dan pesan tahun 2010 dihadapan ribuan warga Tigi Barat adalah “ Membangun Bersama Rakyat “ berlandaskan Agama, Adat, Alam, dan pemerintah” (A3P).

Mengapa memilih Motto demikian ?

Saya memilih motto itu melalui suatu permenungan yang panjang. Adalah pengalaman membukti bahwa selama ini pemerintah memaksakan kehendak dalam membangun wilayah Papua. Masyarakat Papua sangat identik dengan nilai-nilai agama, adat dan alam. Jika kita menoleh kebelakang bahwa pemerintah datang hanya menyempurnakan hukum-hukum yang telah dianut oleh rakyat setempat. Oke… banyak persi muncul membangun Papua, tetapi menurut saya adalah tiga nilai itu mesti di perhatikan….(*****).
Inilah Wajah Kab. Deiyai

Kantor Bupati Deiyai Sedang di Bangun


Senilai satu milyart empat ratus juta telah telah diserahkan kepada marga Mote pada tanggal 18 November 2009. Seluas 100 mX 500 M sudah serahkan kepada pemerintah. Saat penyerahan lokasi dan dana dilaksanakan secara ritual adat. Dikalah itu terlihat 95 tungguh api (tempat).
Saat penyerahan tanah adat diwarnai dengan ritual adat yang sangat sacral itu memiliki nilai yang luhur dalam pemenuhan hidup.
Bupati Deiyai Drs. Blasius Pakage, mengutarakan tanah yang di serahkan oleh marga Mote adalah merupakan suatu bukti keseriusan masyarakat Deiyai untuk menerima pemerintah. Atas penyerahan tanah itu pemerintah akan berkembangan.


Deiyai Pontesi Wisata


Paniai secara kultur berdiam dilereng beberapa gunung yang memanjang di sejumlah kelerengan yang kerap dibatasi dengan Makatadi hingga di …. Di tengah itu didiami oleh suku bangsa Mee. Disanalah mereka mempertahankan eksistensinya sebagai suku bangsa Mee. Sejak tahun 1996 wilayah itu di mekarkan kabupaten Paniai, setelah Nabire di mekarkan dari Kabupaten Paniai. Tidak hanya kabupaten Paniai akan tetapi Kabupaten Puncak Jaya.

Dalam konteks ini lebih akan membahas panorama Kabupaten Deiyai. Danau Tigi mempercantik panorama wilayah Deiyai yang indah pesona itu. Pulau Duwamo dan tanjung-tanjung yang membentang memberikan suatu keindahan dan menambah kekayaan dan menarik perhatian setiap orang melewati wilayah itu. Sungguh menggugah hati setiap pengunjung. (***)




Kepala Disrik Tigi Barat Dianugrahi
“Pemecah Tembok Perbedaan”

Tanggal 29 merupakan hari yang berbahagia bagi 27 ribuh warga masyarakat Tigi Barat. Karena mereka merayakan Natal Oikumene yang pertama setelah kabupaten Deiyai menjadi kabupaten tersendiri. Banyak warga kaget setelah mendengar kata Natal “Oikumene” tapi itu itulah salah satu terobosan yang dilakukan Sosok Frans IGN Bobii kepala Distrik Tigi Barat.
Konsep pikiran kepala Distrik kelahiran 08 Agustus 1976 itu memiliki segudang pengalaman dalam berbagai kegiatan resmi maupun non resmi semasa di Nabire. Dia juga dibesarkan didunia pers, maka berbagai terik pikiran menjadi pengalaman dalam mewujudkan perubahan –perubahan di wilayah itu.
Terhitung tanggal 16 September 2009 umur pemimpin yang satu ini masih umur jagung namun berbagai upaya terus diperjuangkan. Salah satunya merancang konsep kegiatan Natal oikuemen. Hal itu berlangsung atas Motto pembangunan “Membangun Bersama Rakyat Berlandaskan Agama, Adat, Alam dan Pemerintah”. Maka untuk menanamkan nilai-nilai agama kepada masyarakat wlayah itu dan dalam kondisi ini kepala distrik sebagai mediator, dinamisator, dan fasilitator.
Berikut catatan media ini ketika mengikuti detik –detik pelaksanaan natal oikumene.
Pelaksanaan kegiatan ini dilaksanakan dibawah Thema Yesus Datang Untuk Menyatukan Perbedaan.thema itu terpampang di depan pintu yang di hiasi dengan pohon natal dan lampu klap-klip.tentunya dalam menyonsong hari pelaksanaan telah di laksanakan dua kegiatan yang melibatkan berbagai denominasi gereja di wilayah Tigi Barat. Setelah dibentuk panitia Natal Oikueme, Aten Edoway, S.Pak dipercayakan sebagai ketua Panitia. Oleh Panitia mengadakan dua kegiatan diantaranya Lomba Tarian Adat dan lomba Vokal groub pada tanggal 28 Desember dipusatkan di halaman Kantor Distrik Tigi Barat.
Sekitar pukul 09.00 wit para jemaat sudah memadati halaman Distrik untuk mengikuti natal Oikumene. Ketua Klasis Tigi Barat dan Tigi Utara serta Pastor Paroki sudah berada diada mendahului para jemaatnya.yang lebih menarik adalah dengan berbusana khas suku Mee warga 12 kampung wilayah itu datang dengan tarian adat masing-masing kampong.
Ada tujuan tertentu yang hendak dicapai oleh kepala Distrik yakni untuk menyatukan perbedaan pendapat yang selama terlihat di wilayah itu akibat persoalan Organisasi GKII dan GKIP. “tidan ada Allah Milik agama, GKII, GKIP, Katolik, Islam, Hindu dan Budha yang ada hanya satu Allah. Sehingga semua Umat kini sedang mencari Allah melalui masing –masing kepercayaan”urai Frans IGN Bobii dalam kesan Pesan Natal dihadapan ribuan jemaat.
Diakhir perayaan natal oikueme melalui tarian adat Gaupe menganugrahi kepala Distrik Tigi Barat Frans IGN Bobii, sebagai “ Pemecah Tembok Perbedaan”. Hal itu dilakukan oleh warga Masyarakat karena merasa disatukan melalui kegiatan-kegiatan yang selama ini dilakukan. Teristimewa telah menghilangkan sengketa pikiran yang muncul selama ini pasca masalah GKII dan GKIP. (****)